Sejarah Gua Maria Sendang Waluya Jatiningsih

Sunday, November 20, 2005

Dulu Tempat Yang Angker


Kisah ini bermula dari mata air yang dibuat satu keluarga. Kini gua ini kian ramai dikunjungi peziarah. Selain Gua Maria Lourdes Puh Sarang Kediri, Keuskupan Surabaya mempunyai tempat peziarahan lain untuk menghormati Bunda Maria yang terletak di desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Desa Klepu terletak kira-kira 30 km sebelah timur Kota Ponorogo yang terkenal dengan “reponya”. Bila di Kediri dinamanakan Gua Maria Lourdes, di Ponorogo dinamakan Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih.
Fatima adalah sebuah desa kecil di Portugal Tengah. Tempat ini menjadi terkenal setelah pada 1917 terjadi penampakan dan pesan dari Bunda Maria, yakni Lucia, Fransisco dan Yasinta. Dari ketiganya hanya Lucia yang masih hidup dan kini menjadi seorang biarawati. Maka untuk menghormati Bunda Maria dari Fatima, Keuskupan Surabaya merenovasi tempat ziarah di desa Klepu dengan nama Gua Maria Fatima.
Kisah Gua Maria di Klepu berawal dari adanya sebuah sumber mata air (belik – bahasa Jawa) yang dibuat oleh keluarga Tamiran yang tinggal di daerah Pondok, Klepu. Umat di desa Klepu mempunyai kebiasaan berdoa bersama dari rumah ke rumah secara bergantian. Ketika doa bersama diadakan di rumah Tamiran, orang yang hendak ke rumah Tamiran dan melewati belik tadi pasti berhenti sejenak dan menoleh ke belik. Menurut penduduk setempat, konon tempat ini dianggap sebagai tempat yang angker dan sakral. Ketika hal ini diketahui oleh Mbah Selan, seorang tokoh di lingkungan Pondok, maka dia mengambil prakarsa mengajak teman-temannya yang sudah tua dan uzur untuk berdoa mengadakan tirakatan setiap malam Jumat, pukul 24.00 WIB di belik tadi.
Hal ini menimbulkan gagasan para tokoh umat dan umat yang berdiam di sekitar belik untuk mengubah tempat tadi menjadi tempat ziarah dan berdoa di Sendangsono, Jawa Tengah. Akhirnya disepakati dan diusulkan kepada Pastor Paroki Ponorogo untuk mengubah belik tadi menjadi “sendang” dan menempatkan patung Bunda Maria di tempat itu. Pastor Paroki ketika itu, Albertus Haryapranata, Pr mentetujui gagasan itu karena kebetulan pada 1986 Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi tempat ziarah sebagaimana di Sendangsono. Pada 27 Mei 1988, Gua Maria ini diresmikan oleh Uskup Surabaya Mgr. AJ. Dibjokarjana Pr dengan nama “Sendang Waluya Jatiningsih”.

Banyak terkabul
Di tempat ini diadakan Misa Novena sebulan sekali setiap minggu ke-3, pukul 15.00 WIB. Novena tahun ini adalah putaran kedua dan pada Misa pembukaan Mei dan penutupan selalu dipimpin oleh Uskup Surabaya. Dalam setiap misa novena, sebelum Ekaristi dimulai, selalu diadakan perarakan patung Bunda Maria Fatima. Menurut Pastor Kepala paroki Ponorogo, Agustinus Supriyadi Pr (37), kebiasaan ini tidak ada kaitannya dengan iman, namun lebih kepada tradisi umat dari Portugal, Timur Leste dan Flores. Perarakan dimaksudkan untuk memberi penghormatan agar Bunda Maria selalu diratukan.
Seperti Gua Maria Puh Sarang, patung Bunda Maria di Klepu juga terletak di atas. Jadi bila umat ingin berdoa dan melihat langsung patung Bunda Maria, hendaknya tidak berdiri atau duduk terlalu dekat, karena pasti tidak bisa melihat. Patung Bunda Maria bisa dilihat dari kejauhan sekitar 5 meter. Di bawah patung terletak panti imam atau altar untuk Misa. Dan di sebelah kiri bawah altar terdapat sumber mata air yang bisa diambil oleh umat untuk diminum.
Banyak sudah kesaksian umat yang terkabul doanya berkat doa di tempat ini. Seperti yang dialami Anastasia Sugianto dari Lingkungan St. Yosep, Paroki Ponorogo. Ibu dua anak ini sempat bingung dan sedih karena tidak mempunyai uang untuk membiayai anak sulungnya melanjutkan sekolah. Di tempat inilah Sugianti berdoa dan mohon petunjuk Bunda Maria. Selesai berdoa, guru TK ini istirahat dan duduk-duduk di sekitar gua. Tak lama kemudian ada seorang umat yang dikenalnya menghampiri dirinya, mengajak ngobrol dan akhirnya menawarkan bantuannya membiayai kuliah anaknya. Kesaksian lainnya juga dituturkan Barnabas Parnun. Umat Stasi Klepu, Paroki Ponorogo ini setiap malam Jumat Kliwon bersama umat lainnya rutin berdoa dan tirakatan di tempat ziarah ini. Bila kini ia dan seluruh keluarga selalu diberikan ketentraman lahir batin dan rejeki yang selalu mengalir, Parnun yakin berkat pertolongan Bunda Maria.

Masih sepi
Untuk mengembangkan tempat ziarah ini, kini telah diadakan perluasan areal tempat seperti kamar mandi, WC baik di bagian bawah maupun atas. Kini juga sudah dibangun aula untuk rekoleksi dan menginap sekitar 100 orang serta pastoran. Dibandingkan dengan tempat ziarah Puh Sarang, alam di Klepu sangat mendukung dan indah, dilatar belakangi hutan pinus dan air sendang yang asli.
Rute perjalanan bisa ditempuh oleh peziarah dengan naik mobil atau bus, dari Ponorogo menuju Kecamatan Pulung kemudian menuju ke Desa Klepu. Jalan dari Bedoho sampai lokasi gua memang masih sepi, belum begitu banyak pedagang dan kios-kios. Prasarana yang ada meskipun sudah memadai namun belum selengkap di Gua Maria Puh Sarang. Namun tempat ini punya daya tarik tersendiri dan cocok untuk mereka yang ingin bersusah payah dan mengalami kesulitan kalau berziarah. Sejak dianugerahi sebagai tempat untuk mendapatkan indulgensi pada 31 Desember 1999 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta, jumlah peziarah dari Keuskupan Surabaya, Malang, Semarang dan Jakarta semakin meningkat.
Bila ada umat yang datang dari luar kota dengan naik bus umum, bisa langsung menuju Gereja St. Maria Ponorogo yang beralamat di Jalan Gajah Mada 45. Dari Gereja ini, Pastor Paroki Ponorogo akan membantu mencarikan transportasi menuju Gua Maria Klepu. Namun sebelumnya, peziarah sebaiknya menghubungi pastoran Ponorogo terlebih dahulu dengan nomer telepon (0352) 481184. Di sekitar tempat ziarah ini juga terdapat tempat wisata menarik, antara lain Telaga Ngebel. Atau juga menikmati pentas seni budaya kesenian reog di alun-alun Ponorogo setiap malam bulan purnama.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home