Sejarah Gua Maria Sendang Waluya Jatiningsih

Sunday, November 20, 2005

Sejarah Gua Maria


Keuskupan Surabaya memiliki tempat ziarah, yang pertama ialah Gua Maria Fatima Lourdes, Puh Sarang, Kediri, Keuskupan Surabaya yang terkenal itu. Yang lainnya ialah Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo.
Gua Maria Fatima ini terletak di desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo. Desa Klepu terletak kira-kira 30 km sebelah timur kota Ponorogo. Jalan yang bisa ditempuh oleh para peziarah ialah dari Ponorogo ke arah Timur ke Kecamatan Pulung kemudian menuju Kecamatan Sooko dari sana lewat jalan bebatuan menuju ke desa Klepu.
Kisah Gua Maria Fatima di Klepu berawal dari adanya sebuah sumber mata air (belik – bahasa Jawa) yang dibuat oleh keluarga Bapak Tamiran yang tinggal di lingkungan Pondok, Stasi Klepu. Umat di desa Klepu yang mayoritas beragama Katolik dan saat ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Bapak Albertus Agung. Mereka memiliki kebiasaan untuk berdoa bersama dari rumah ke rumah secara bergantian. Ketika doa bersama sampai di rumah Bapak Tamiran, orang yang hendak ke rumah Pak Tamiran dan melewati belik tadi pasti berhenti sejenak dan menoleh ke belik tadi. Apa sebabnya? Karena oleh penduduk setempat konon tempat ini dianggap sebagai tempat yang angker, yang sakral. Ketika hal ini diketahui oleh Mbah Selan, seorang tokoh di lingkungan Pondok, maka dia mengambil prakarsa mengajak teman-teman yang sudah tua atau uzur usianya untuk berdoa atau tirakatan setiap malam Jumat pukul 24.00 di belik tadi. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh keluarga-keluarga lainnya.
Pada waktu itu ada kebiasaan di kalangan umat Katolik Stasi Klepu bahwa setiap bulan Mei mereka mengirimkan wakil untuk berziarah ke Sendangsono.
Hal ini kemudian menimbulkan gagasan pada tokoh umat serta umat yang berdiam di sekitar belik tadi untuk mengubah tempat tadi menjadi tempat ziarah dan tempat berdoa seperti Sendangsono di Jawa tengah. Akhirnya disepakati untuk mengusulkan kepada Romo Paroki untuk mengubah belik tadi menjadi sendang dan menempatkan patung Bunda Maria di tempat itu.
Rm. A. Haryopranoto, Pr, pastor paroki St. Maria, Ponorogo saat itu menyetujui gagasan tersebut. Kebetulan pada tahun 1986 Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi tempat ziarah sebagaimana di Sendangsono. Maka kemudian tanah di mana terletak belik tadi dibeli oleh Paroki dan dijadikan tempat ziarah untuk menghormati Bunda Maria dan diresmikan oleh Mgr. A.J. Dibyakaryana, Uskup Surabaya saat itu, dengan nama “Sandang Waluyajatiningsih”, pada tanggal 27 Mei 1988.
Selain plaza atau lapangan tempat berdoa bagi umat kemudian juga dibangun jalan salib melingkari jalan yang menuju ke tempat ziarah tersebut, tempat-tempat di mana terletak jalan salib masih di atas tanah milik umat yang dengan sukarela mengijinkan tenah mereka untuk dikurangi sebagai jalan untuk para peziarah dan ditempati jalan salib masih ditempati jalan salib.
Pada awal tahun 2000, tepatnya tanggal 25 Desember 1999, tempat ziarah Sendang Waluya jatiningsih termasuk Gereja Sakramen Mahakudus, Klepu, merupakan salah satu tempat bagi umat di Keuskupan Surabaya untuk mendapatkan anugerah indulgensi selama Yubileum tahun 2000. Tanggal 31 Desember 1999 diadakan misa pembukaan Yubileum tahun 2000 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta, bersama Romo-Romo dari Kevikepan Regio III. Dengan dinyatakannya sebagai tempat untuk mendapatkan indulgensi, maka jumlah peziarah dari berbagai tempat meningkat, baik di Keuskupan Surabaya maupun dari Keuskupan Malang dan Semarang bahkan juga dari Jakarta.
Untuk mengantisipasi hal ini dan mengembangkan tempat ziarah ini maka telah diadakan perluasan areal tempat untuk peziarahan, dibangun beberapa kamar mandi dan WC baik di bagian bawah maupun di bagian atas. Bahkan juga dibanguntempat penginapan dan kamar mandi serta WC yang cukup banyak untuk bisa membantu para peziarah. Melihat pesatnya dan jumlah umat yang berkunjung ke tempat ziarah untuk Bunda Maria di Puh Sarang, Kediri maka Romo Paroki St. Maria Ponorogo dan umat Stasi Klepu meminya kepada pihak Keuskupan untuk meningkatkan sarana dan prasarana tempat ziarah di desa Klepu terssebut. Pada tahap awal konsentrasi tenaga dan dana ditujukan untuk membangun gereja stasi, ialah Gereja Sakramen Mahakudus. Gereja Stasi itu kini telah berdiri kokoh dan megah.
Untuk mengantisipasi masa depan dan mengamankan tempat ziarah maka tanah di sekitar Gua yang berdekatan dengan Hutan Lindung milik Perhutani telah berhasil dibeli. Yang dikhawatirkan ialah bila tidak dijaga dengan baik, dan suatu ketika terjadi penggundulan hutan pinus yang ada di belekang Gua, sumber mata air habis dan bisa terjadi erosi. Gua Maria yang ada sekarang dirasakan terlalu kecil dan perlu diperbaiaki, sebab dulu dibangun secara sederhana, maka dari hasil pembicaraan bersama antara pihak paroki dan panitia pembangunan Keuskupan disepakati memindah. Lokasi gua ke tempat yang lebih tinggi dan membangunnya dengan pondasi yang lebih kokoh, serta mempunyai daya tampung lebih luas dari pada sekarang ini. Umat juga mengusulkan agar patung Maria yang ada sekarang ini diganti dengan patung Bunda Maria Fatima yang lebih besar.
Dibandingkan dengan tempat ziarah Gua Maria Lourdes Puh Sarang, alam di Klepu, sangat mendukung, sangat indah, di latar belakangi oleh hutan pinus, air sendang yang asli. Namun harus diakui jalan ke sana tidak mudah, orang harus rela berjalan kaki dengan susah payah. Kendaraan besar seperti bis tidak bisa menjangkau tempat ini. Tempatnya masih sepi belum banyak pedagang dan kios-kios seperti di Puh Sarang. Parasana yang ada tidak selengkap di Puh Sarang, namun tempat itu punya daya tarik tersendiri dan cocok untuk mereka yang ingin bersusah payah dan mengalami kesulitan kalau berziarah. Kalau dilihat dalam peta, sebagaimana Gua Lourdes Puh Sarang di Prancis dan Gua Maria Fatima di Portugal letaknya tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya tempat ziarah Puh Sarang dan Klepu juga tidak terlalu jauh, keduanya masih berada di seputar Gunung Wilis.
Pada saat sekarang, Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo cukup banyak di datangi peziarah. Mereka berasal dari Keuskupan Surabaya, Keuskupan Agung Semarang, Jakarta, Malang dan kota-kota lain. Setiap Minggu ketiga dalam bulan di Gua Maria Fatima selalu diadakan misa novena Maria Fatima. Novena telah sampai pada putaran ketiga, diadakan pada pukul 11.00 WIB. Novena ini diawali pada bulan Mei dan berkhir sembilan bulan kemudian pada bulan Januari tahun berikutnya. Setiap kali pembukaan dan penutupan misa Novena selalu dipimpin oleh Bapa Uskup. Selain itu, untuk meneruskan tradisi malam tirakatan yang telah dirintis oleh para sesepuh stasi Klepu, maka pada tiap malam Jumat Kliwon, yakni pada hari Kamis Legi, tepatnya jam 22.00 WIB diadakan misa tirakatan malam Jumat Kliwon.
Di balik itu semua, masih ada beberapa sarana dan prasarana di kompleks Gua Maria Fatima yang masih membutuhkan sentuhan perbaikan. Misalnya beberapa kerusakan yang ada seperti tandon air gua yang bocor dan membasahi Sakristi di bawahnya. Padahal tandon air tersebut sungguh vital untuk mengalirkan air dari Sendang Waluya Jatiningsih ke kran-kran. Juga yang sekarang sedang mendapat perhatian dari Panitia Pengelola Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih ialah perbaikan jalan salib yang melingkari kompleks ziarah itu. Selama ini jalan salib yang sudah baik ialah dari perhentian I sampai VII, sedangkan jalan yang masih jelek berupa jalan tanah yang licin dan becek ketika hujan ialah dari perhentian VIII sampai XIV. Kiranya hal ini mengetuk hati para pembaca yang budiman yang memiliki kepedulian terhadap Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home