Sejarah Gua Maria Sendang Waluya Jatiningsih

Sunday, November 20, 2005

Vincentius Selan, Menanam Andong, Puring Dan Jambe


Selalu berdoa, mohon ampun pada Tuhan, dan percaya akan mendapat untung di kemudian hari, itulah yang selalu diimaninya.
Keberadaan Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo, Jatim, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Vincentius Selan. Ia adalah satu-satunya saksi sejarah awal mula tempat ziarah milik Keuskupan Surabaya yang terkenal dengan nama Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih. Lelaki 70 tahun yang tinggal di lingkungan Pondok, Stasi Klepu ini menjadi sumber informasi yang layak dipercaya.
Mbah Selan, panggilan akrabnya, mengatakan, semuanya berawal dari belik (sumber air) milik Tamiran (kini almarhum). Suatu saat, Tamiran mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Lalu ia berusaha mencari tombo Jowo (obat dari dukun atau paranormal). Tamiran menemui Mbah Pamejo untuk mendapatkan obat yang diharapkan menyembuhkannya. Tetapi yang dialami Tamiran justru sebaliknya. Sakitnya makin parah karena meminum ramuan sang dukun. Ketika sakit itulah Tamiran sulit tidur.
Suatu saat ketika bisa tidur, justru Tamiran mendapat mimpi. Terjadinya sekitar jam empat pagi. Mimpi tersebut berupa pesan agar belik miliknya tidak dipakai untuk padusan dan wisuh (mandi dan mencuci). Dalam mimpi itu, Tamiran justru dipesan agar membuat belik kecil di bawah belik besar yang sudah ada sebelumnya. Belik kecil itu akan bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menyembuhkan penyakitnya. Tamiran yang amat mengharapkan kesembuhan itu juga dipesan agar kelak jika ia sembuh menanam tiga jenis tanaman, yaitu: andong, puring dan jambe. Pesan mimpi itu ialah: andong mengandung maksud supaya orang diingatkan untuk selalu ndedonga (berdoa), puring dimaksudkan supaya orang nyuwun pangapura kaliyan Gusti (memohon ampun dari Tuhan), dan jambe maksudnya agar manusia mengalami bejo ing tembe (keberuntungan di kemudian hari).
Peristiwa yang terjadi tahun 1950 –an itu membuat Tamiran sungguh mengharapkan kesembuhan sambil berdoa memohon pertolongan Yang Mahakuasa. Dan ketika sembuh, Tamiran pun melaksanakan amanat yang didengarnya dari mimpi jam empat pagi itu.

Peristiwa ‘ 65
Waktu terus bergerak. Tahun 1963 kelompok reog yang diikuti Tamiran muda dan Selan muda berpentas di Madiun. Saat itu yang mengajak adalah seorang koster Gereja Cornelius, Madiun, asal Klepu bernama Sugiyoto. Ketika terjadi peristiwa berdarah tahun 1965, warga lingkungan tempat tinggal Tamiran dan Selan merasa tidak nyaman dengan banyaknya pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa. Karena itu, mereka bersama dua teman lainnya berbicara dengan Lurah Sumakun (almarhum, kakek Lurah Klepu sekarang) dan Sugiyoto. Mereka bertanya, apakah bisa menganut agama Katolik ? Tanpa “babibu”, Sugiyoto menjawab bisa. Permintaan warga ditanggapi Sugiyoto dengan menghadap ke Pastor Paroki Madiun saat itu, Fornasari Sebastiano, CM (almarhum). Pastor Fornasari menanggapinya dengan positif asalkan paling tidak ada 25 orang yang akan dibimbing. Sugiyoto meminta agar kelima warga Klepu yang berminat menjadi Katolik mengajak teman sedikitnya 25 orang. Warga Klepu tadi tidak kurang akal, mereka mengajak anak, istri, dan kerabatnya sampai terkumpul sebanyak 25 orang sebagaimana permintaan Pastor Fornasari.
Sampai suatu saat, pastor paroki mengirimkan seorang Katekis dari Madiun bernama Sukardi, membimbing mereka menjadi katekumen. Semakin lama, peminat pelajaran agama Katolik bertambah banyak. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, Sukardi merasa tak mampu lagi. Akhirnya Paroki Madiun mendatangkan seorang katekis tambahan, Mario Alimin. Bersamaan dengan itu dibentuklah 12 lingkungan untuk memudahkan pelayanan bagi para katekumen, yaitu satu lingkungan di wilayah desa Jurug dan 11 lingkungan lainnya di wilayah desa Klepu. Mbah Selan mencatat semangat para katekumen serta kesederhanaan para katekis, yaitu Sukardi dan Mario Alimin yang selalu menerima apa adanya yang diberikan umat. Para katekis pun selalu memilih giliran istirahat justru di tempat umat yang menurut mereka sederhana sekali. Sampai akhirnya, sebanyak 853 katekumen mancapai garis tujuannya dengan menerima baptisan dari Pastor Fornasari tahun 1968. Itulah baptisan pertama dan terbanyak di Klepu. Jumlah umat Katolik yang semakin banyak membuat aktivitas umat meningkat pula. Ketika itu mulai diadakan doa lingkungan secara bergiliran dua kali seminggu. Umat lingkungan Pondok yang mendatangi rumah Tamiran untuk doa selalu melewati belik tadi. Tiap kali sampai di belik mereka selalu berhenti sejenak. Mereka merasa tempat itu angker. Karena itu, kemudian Mbah Selan selaku sesepuh di lingkungan itu mengajak beberapa sesepuh mengadakan doa tiap malam Jumat di tempat tersebut. Di antaranya, Mbah Warijan (alm) dan Pak Pathil (alm).
Lama kelamaan, doa jam 12 malam itu diikuti banyak orang. Karena tidak hanya para sepuh tetapi juga ibu-ibu bersama anak-anaknya, maka doa jam 12 malam itu diubah menjadi jam tujuh malam. Saat itu katekis baru, Sugiyanto juga ikut berdoa di dekat belik tadi. Kabar tentang doa di belik tiap malam Jumat itu akhirnya sampai ke telingga Pastor Paroki Ponorogo Albertus Haryopranoto, Pr dan Pastor John Pareira, Pr. Keduanya melihat lokasi dan menyaksikan kegiatan doa umat Pondok. Saat itu memang Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi untuk tempat ziarah.
Muncullah ide mengembangkan kegiatan itu dan kehendak untuk membeli lokasi belik sebagai tempat ziarah. Maka, pastor paroki mengutus Sugiyanto mengkomunikasikannya dengan isteri Tamiran. Istri Tamiran tidak berkeberatan dengan kehendak Gereja, tetapi ia hendak mengumpulkan sanak saudara dan ahli waris Tamiran. Dalam rapat keluarga besar Tamiran dicapailah kata sepakat bila tanah di mana terdapat belik tempat berdoa tadi dibeli Gereja untuk dikembangkan menjadi lokasi ziarah milik Keuskupan Surabaya. Akhirnya mulai dibangunlah Kompleks Ziarah Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih lengkap dengan jalan salib yang mengitari bukit sekitar belik. Tahun 1988, kompleks ziarah tersebut diresmikan Mgr. Aloysius Joseph Dibyokaryono, Pr.


Banyak mukjijat
Sejak diresmikannya kompleks ziarah itu, dibentuklah panitia kecil untuk mengelolanya. Mereka merawat dan memelihara dengan sukarela tanpa mendapat imbalan. Jumlahnya tiga orang, Selan sebagai penerima tamu, Warni mengurus keuangan dan Jemani, anak Tamiran sebagai sekertaris. Dari tahun ke tahun peziarah mulai berdatangan ke lokasi ziarah tersebut untuk berdoa dan memohonkan pertolongan. Bahkan beberapa di antara para peziarah tidak beragama Katolik.
Mbah Selan mencatat beberapa di antara para peziarah terkabul permohonannya. Mereka adalah Kasiran dari desa Tempuran (bukan Katolik) menyuruh keponakannya meminum air Sendang hingga sembuh dari sakit gatal; Mbok Sibro yang datang ke tempat itu untuk bersyukur atas kesembuhannya; seorang sopir dari Ponorogo yang tidak memiliki anak datang berdoa ke tempat itu dan mendapatkan keturunan; seorang dukun dari Banjar Rejo Pudak yang selalu mengambil air Sendang untuk menyembuhkan orang gila; cucu Tamiran yang masih kecil tercebur ke belik, cucu Mbah Selan sendiri bernama Hananto yang sakit amandel; menurut dokter harus dioperasi, karena tak punya uang ia dimandikan dengan air Sendang oleh Sugiyanto dan akhirnya sembuh.
Tamiran yang sakit mengalami waluyo (kesehatan dan kesembuhan) sedang cucunya yang tercebur mengalami sih (belas kasihan) karena selamat dari tenggelam. Itulah mengapa sampai kini dipakai nama Waluya Jatiningsih untuk Sendang. Belik besar yang tidak boleh dipakai untuk mandi dan mencuci kini telah ditutup, tetapi ada belik kecil buatan Tamiran selalu terbuka untuk diambil dan dipakai untuk berbagai keperluan bagi mereka yang percaya serta mengharapkan pertolongan Allah.
Kini, Mbah Selan sendiri tidak bisa memberi perhatian penuh pada Kompleks Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih. Ia tidak bisa menyapu lokasi jalan salib dan kompleks ziarah, membersihkan Sendang, merawat tanaman atau menemani peziarah. Itu semua karena istrinya sakit mata, bahkan tidak bisa melihat. Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk berobat ke dokter hingga ke Surabaya. Tetapi penyakit istrinya tak kunjung sembuh. Karena itu hari-harinya kini disibukkan dengan merawat istrinya. Mereka kini tinggal berdua, karena anak perempuan satu-satunya telah menjadi guru SD dan bersama suaminya tinggal di lingkungan Ngapak.
Meskipun demikian, Mbah Selan masih mengemban amanat mimpi yang pernah dialami Tamiran yaitu untuk menanam kembali Andong, Puring dan Jambe yang mati karena pembangunan Kompleks Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih tahun 2000-2001. Baginya, penanaman kembali tanaman itu akan mengingatkan para peziarah untuk selalu ndedonga, nyuwun pangapura dan bejo ing tembe.