Sejarah Gua Maria Sendang Waluya Jatiningsih

Sunday, November 20, 2005

Sejarah Gua Maria


Keuskupan Surabaya memiliki tempat ziarah, yang pertama ialah Gua Maria Fatima Lourdes, Puh Sarang, Kediri, Keuskupan Surabaya yang terkenal itu. Yang lainnya ialah Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo.
Gua Maria Fatima ini terletak di desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo. Desa Klepu terletak kira-kira 30 km sebelah timur kota Ponorogo. Jalan yang bisa ditempuh oleh para peziarah ialah dari Ponorogo ke arah Timur ke Kecamatan Pulung kemudian menuju Kecamatan Sooko dari sana lewat jalan bebatuan menuju ke desa Klepu.
Kisah Gua Maria Fatima di Klepu berawal dari adanya sebuah sumber mata air (belik – bahasa Jawa) yang dibuat oleh keluarga Bapak Tamiran yang tinggal di lingkungan Pondok, Stasi Klepu. Umat di desa Klepu yang mayoritas beragama Katolik dan saat ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Bapak Albertus Agung. Mereka memiliki kebiasaan untuk berdoa bersama dari rumah ke rumah secara bergantian. Ketika doa bersama sampai di rumah Bapak Tamiran, orang yang hendak ke rumah Pak Tamiran dan melewati belik tadi pasti berhenti sejenak dan menoleh ke belik tadi. Apa sebabnya? Karena oleh penduduk setempat konon tempat ini dianggap sebagai tempat yang angker, yang sakral. Ketika hal ini diketahui oleh Mbah Selan, seorang tokoh di lingkungan Pondok, maka dia mengambil prakarsa mengajak teman-teman yang sudah tua atau uzur usianya untuk berdoa atau tirakatan setiap malam Jumat pukul 24.00 di belik tadi. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh keluarga-keluarga lainnya.
Pada waktu itu ada kebiasaan di kalangan umat Katolik Stasi Klepu bahwa setiap bulan Mei mereka mengirimkan wakil untuk berziarah ke Sendangsono.
Hal ini kemudian menimbulkan gagasan pada tokoh umat serta umat yang berdiam di sekitar belik tadi untuk mengubah tempat tadi menjadi tempat ziarah dan tempat berdoa seperti Sendangsono di Jawa tengah. Akhirnya disepakati untuk mengusulkan kepada Romo Paroki untuk mengubah belik tadi menjadi sendang dan menempatkan patung Bunda Maria di tempat itu.
Rm. A. Haryopranoto, Pr, pastor paroki St. Maria, Ponorogo saat itu menyetujui gagasan tersebut. Kebetulan pada tahun 1986 Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi tempat ziarah sebagaimana di Sendangsono. Maka kemudian tanah di mana terletak belik tadi dibeli oleh Paroki dan dijadikan tempat ziarah untuk menghormati Bunda Maria dan diresmikan oleh Mgr. A.J. Dibyakaryana, Uskup Surabaya saat itu, dengan nama “Sandang Waluyajatiningsih”, pada tanggal 27 Mei 1988.
Selain plaza atau lapangan tempat berdoa bagi umat kemudian juga dibangun jalan salib melingkari jalan yang menuju ke tempat ziarah tersebut, tempat-tempat di mana terletak jalan salib masih di atas tanah milik umat yang dengan sukarela mengijinkan tenah mereka untuk dikurangi sebagai jalan untuk para peziarah dan ditempati jalan salib masih ditempati jalan salib.
Pada awal tahun 2000, tepatnya tanggal 25 Desember 1999, tempat ziarah Sendang Waluya jatiningsih termasuk Gereja Sakramen Mahakudus, Klepu, merupakan salah satu tempat bagi umat di Keuskupan Surabaya untuk mendapatkan anugerah indulgensi selama Yubileum tahun 2000. Tanggal 31 Desember 1999 diadakan misa pembukaan Yubileum tahun 2000 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta, bersama Romo-Romo dari Kevikepan Regio III. Dengan dinyatakannya sebagai tempat untuk mendapatkan indulgensi, maka jumlah peziarah dari berbagai tempat meningkat, baik di Keuskupan Surabaya maupun dari Keuskupan Malang dan Semarang bahkan juga dari Jakarta.
Untuk mengantisipasi hal ini dan mengembangkan tempat ziarah ini maka telah diadakan perluasan areal tempat untuk peziarahan, dibangun beberapa kamar mandi dan WC baik di bagian bawah maupun di bagian atas. Bahkan juga dibanguntempat penginapan dan kamar mandi serta WC yang cukup banyak untuk bisa membantu para peziarah. Melihat pesatnya dan jumlah umat yang berkunjung ke tempat ziarah untuk Bunda Maria di Puh Sarang, Kediri maka Romo Paroki St. Maria Ponorogo dan umat Stasi Klepu meminya kepada pihak Keuskupan untuk meningkatkan sarana dan prasarana tempat ziarah di desa Klepu terssebut. Pada tahap awal konsentrasi tenaga dan dana ditujukan untuk membangun gereja stasi, ialah Gereja Sakramen Mahakudus. Gereja Stasi itu kini telah berdiri kokoh dan megah.
Untuk mengantisipasi masa depan dan mengamankan tempat ziarah maka tanah di sekitar Gua yang berdekatan dengan Hutan Lindung milik Perhutani telah berhasil dibeli. Yang dikhawatirkan ialah bila tidak dijaga dengan baik, dan suatu ketika terjadi penggundulan hutan pinus yang ada di belekang Gua, sumber mata air habis dan bisa terjadi erosi. Gua Maria yang ada sekarang dirasakan terlalu kecil dan perlu diperbaiaki, sebab dulu dibangun secara sederhana, maka dari hasil pembicaraan bersama antara pihak paroki dan panitia pembangunan Keuskupan disepakati memindah. Lokasi gua ke tempat yang lebih tinggi dan membangunnya dengan pondasi yang lebih kokoh, serta mempunyai daya tampung lebih luas dari pada sekarang ini. Umat juga mengusulkan agar patung Maria yang ada sekarang ini diganti dengan patung Bunda Maria Fatima yang lebih besar.
Dibandingkan dengan tempat ziarah Gua Maria Lourdes Puh Sarang, alam di Klepu, sangat mendukung, sangat indah, di latar belakangi oleh hutan pinus, air sendang yang asli. Namun harus diakui jalan ke sana tidak mudah, orang harus rela berjalan kaki dengan susah payah. Kendaraan besar seperti bis tidak bisa menjangkau tempat ini. Tempatnya masih sepi belum banyak pedagang dan kios-kios seperti di Puh Sarang. Parasana yang ada tidak selengkap di Puh Sarang, namun tempat itu punya daya tarik tersendiri dan cocok untuk mereka yang ingin bersusah payah dan mengalami kesulitan kalau berziarah. Kalau dilihat dalam peta, sebagaimana Gua Lourdes Puh Sarang di Prancis dan Gua Maria Fatima di Portugal letaknya tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya tempat ziarah Puh Sarang dan Klepu juga tidak terlalu jauh, keduanya masih berada di seputar Gunung Wilis.
Pada saat sekarang, Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo cukup banyak di datangi peziarah. Mereka berasal dari Keuskupan Surabaya, Keuskupan Agung Semarang, Jakarta, Malang dan kota-kota lain. Setiap Minggu ketiga dalam bulan di Gua Maria Fatima selalu diadakan misa novena Maria Fatima. Novena telah sampai pada putaran ketiga, diadakan pada pukul 11.00 WIB. Novena ini diawali pada bulan Mei dan berkhir sembilan bulan kemudian pada bulan Januari tahun berikutnya. Setiap kali pembukaan dan penutupan misa Novena selalu dipimpin oleh Bapa Uskup. Selain itu, untuk meneruskan tradisi malam tirakatan yang telah dirintis oleh para sesepuh stasi Klepu, maka pada tiap malam Jumat Kliwon, yakni pada hari Kamis Legi, tepatnya jam 22.00 WIB diadakan misa tirakatan malam Jumat Kliwon.
Di balik itu semua, masih ada beberapa sarana dan prasarana di kompleks Gua Maria Fatima yang masih membutuhkan sentuhan perbaikan. Misalnya beberapa kerusakan yang ada seperti tandon air gua yang bocor dan membasahi Sakristi di bawahnya. Padahal tandon air tersebut sungguh vital untuk mengalirkan air dari Sendang Waluya Jatiningsih ke kran-kran. Juga yang sekarang sedang mendapat perhatian dari Panitia Pengelola Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih ialah perbaikan jalan salib yang melingkari kompleks ziarah itu. Selama ini jalan salib yang sudah baik ialah dari perhentian I sampai VII, sedangkan jalan yang masih jelek berupa jalan tanah yang licin dan becek ketika hujan ialah dari perhentian VIII sampai XIV. Kiranya hal ini mengetuk hati para pembaca yang budiman yang memiliki kepedulian terhadap Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo.

Dulu Tempat Yang Angker


Kisah ini bermula dari mata air yang dibuat satu keluarga. Kini gua ini kian ramai dikunjungi peziarah. Selain Gua Maria Lourdes Puh Sarang Kediri, Keuskupan Surabaya mempunyai tempat peziarahan lain untuk menghormati Bunda Maria yang terletak di desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Desa Klepu terletak kira-kira 30 km sebelah timur Kota Ponorogo yang terkenal dengan “reponya”. Bila di Kediri dinamanakan Gua Maria Lourdes, di Ponorogo dinamakan Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih.
Fatima adalah sebuah desa kecil di Portugal Tengah. Tempat ini menjadi terkenal setelah pada 1917 terjadi penampakan dan pesan dari Bunda Maria, yakni Lucia, Fransisco dan Yasinta. Dari ketiganya hanya Lucia yang masih hidup dan kini menjadi seorang biarawati. Maka untuk menghormati Bunda Maria dari Fatima, Keuskupan Surabaya merenovasi tempat ziarah di desa Klepu dengan nama Gua Maria Fatima.
Kisah Gua Maria di Klepu berawal dari adanya sebuah sumber mata air (belik – bahasa Jawa) yang dibuat oleh keluarga Tamiran yang tinggal di daerah Pondok, Klepu. Umat di desa Klepu mempunyai kebiasaan berdoa bersama dari rumah ke rumah secara bergantian. Ketika doa bersama diadakan di rumah Tamiran, orang yang hendak ke rumah Tamiran dan melewati belik tadi pasti berhenti sejenak dan menoleh ke belik. Menurut penduduk setempat, konon tempat ini dianggap sebagai tempat yang angker dan sakral. Ketika hal ini diketahui oleh Mbah Selan, seorang tokoh di lingkungan Pondok, maka dia mengambil prakarsa mengajak teman-temannya yang sudah tua dan uzur untuk berdoa mengadakan tirakatan setiap malam Jumat, pukul 24.00 WIB di belik tadi.
Hal ini menimbulkan gagasan para tokoh umat dan umat yang berdiam di sekitar belik untuk mengubah tempat tadi menjadi tempat ziarah dan berdoa di Sendangsono, Jawa Tengah. Akhirnya disepakati dan diusulkan kepada Pastor Paroki Ponorogo untuk mengubah belik tadi menjadi “sendang” dan menempatkan patung Bunda Maria di tempat itu. Pastor Paroki ketika itu, Albertus Haryapranata, Pr mentetujui gagasan itu karena kebetulan pada 1986 Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi tempat ziarah sebagaimana di Sendangsono. Pada 27 Mei 1988, Gua Maria ini diresmikan oleh Uskup Surabaya Mgr. AJ. Dibjokarjana Pr dengan nama “Sendang Waluya Jatiningsih”.

Banyak terkabul
Di tempat ini diadakan Misa Novena sebulan sekali setiap minggu ke-3, pukul 15.00 WIB. Novena tahun ini adalah putaran kedua dan pada Misa pembukaan Mei dan penutupan selalu dipimpin oleh Uskup Surabaya. Dalam setiap misa novena, sebelum Ekaristi dimulai, selalu diadakan perarakan patung Bunda Maria Fatima. Menurut Pastor Kepala paroki Ponorogo, Agustinus Supriyadi Pr (37), kebiasaan ini tidak ada kaitannya dengan iman, namun lebih kepada tradisi umat dari Portugal, Timur Leste dan Flores. Perarakan dimaksudkan untuk memberi penghormatan agar Bunda Maria selalu diratukan.
Seperti Gua Maria Puh Sarang, patung Bunda Maria di Klepu juga terletak di atas. Jadi bila umat ingin berdoa dan melihat langsung patung Bunda Maria, hendaknya tidak berdiri atau duduk terlalu dekat, karena pasti tidak bisa melihat. Patung Bunda Maria bisa dilihat dari kejauhan sekitar 5 meter. Di bawah patung terletak panti imam atau altar untuk Misa. Dan di sebelah kiri bawah altar terdapat sumber mata air yang bisa diambil oleh umat untuk diminum.
Banyak sudah kesaksian umat yang terkabul doanya berkat doa di tempat ini. Seperti yang dialami Anastasia Sugianto dari Lingkungan St. Yosep, Paroki Ponorogo. Ibu dua anak ini sempat bingung dan sedih karena tidak mempunyai uang untuk membiayai anak sulungnya melanjutkan sekolah. Di tempat inilah Sugianti berdoa dan mohon petunjuk Bunda Maria. Selesai berdoa, guru TK ini istirahat dan duduk-duduk di sekitar gua. Tak lama kemudian ada seorang umat yang dikenalnya menghampiri dirinya, mengajak ngobrol dan akhirnya menawarkan bantuannya membiayai kuliah anaknya. Kesaksian lainnya juga dituturkan Barnabas Parnun. Umat Stasi Klepu, Paroki Ponorogo ini setiap malam Jumat Kliwon bersama umat lainnya rutin berdoa dan tirakatan di tempat ziarah ini. Bila kini ia dan seluruh keluarga selalu diberikan ketentraman lahir batin dan rejeki yang selalu mengalir, Parnun yakin berkat pertolongan Bunda Maria.

Masih sepi
Untuk mengembangkan tempat ziarah ini, kini telah diadakan perluasan areal tempat seperti kamar mandi, WC baik di bagian bawah maupun atas. Kini juga sudah dibangun aula untuk rekoleksi dan menginap sekitar 100 orang serta pastoran. Dibandingkan dengan tempat ziarah Puh Sarang, alam di Klepu sangat mendukung dan indah, dilatar belakangi hutan pinus dan air sendang yang asli.
Rute perjalanan bisa ditempuh oleh peziarah dengan naik mobil atau bus, dari Ponorogo menuju Kecamatan Pulung kemudian menuju ke Desa Klepu. Jalan dari Bedoho sampai lokasi gua memang masih sepi, belum begitu banyak pedagang dan kios-kios. Prasarana yang ada meskipun sudah memadai namun belum selengkap di Gua Maria Puh Sarang. Namun tempat ini punya daya tarik tersendiri dan cocok untuk mereka yang ingin bersusah payah dan mengalami kesulitan kalau berziarah. Sejak dianugerahi sebagai tempat untuk mendapatkan indulgensi pada 31 Desember 1999 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta, jumlah peziarah dari Keuskupan Surabaya, Malang, Semarang dan Jakarta semakin meningkat.
Bila ada umat yang datang dari luar kota dengan naik bus umum, bisa langsung menuju Gereja St. Maria Ponorogo yang beralamat di Jalan Gajah Mada 45. Dari Gereja ini, Pastor Paroki Ponorogo akan membantu mencarikan transportasi menuju Gua Maria Klepu. Namun sebelumnya, peziarah sebaiknya menghubungi pastoran Ponorogo terlebih dahulu dengan nomer telepon (0352) 481184. Di sekitar tempat ziarah ini juga terdapat tempat wisata menarik, antara lain Telaga Ngebel. Atau juga menikmati pentas seni budaya kesenian reog di alun-alun Ponorogo setiap malam bulan purnama.

Vincentius Selan, Menanam Andong, Puring Dan Jambe


Selalu berdoa, mohon ampun pada Tuhan, dan percaya akan mendapat untung di kemudian hari, itulah yang selalu diimaninya.
Keberadaan Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo, Jatim, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Vincentius Selan. Ia adalah satu-satunya saksi sejarah awal mula tempat ziarah milik Keuskupan Surabaya yang terkenal dengan nama Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih. Lelaki 70 tahun yang tinggal di lingkungan Pondok, Stasi Klepu ini menjadi sumber informasi yang layak dipercaya.
Mbah Selan, panggilan akrabnya, mengatakan, semuanya berawal dari belik (sumber air) milik Tamiran (kini almarhum). Suatu saat, Tamiran mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Lalu ia berusaha mencari tombo Jowo (obat dari dukun atau paranormal). Tamiran menemui Mbah Pamejo untuk mendapatkan obat yang diharapkan menyembuhkannya. Tetapi yang dialami Tamiran justru sebaliknya. Sakitnya makin parah karena meminum ramuan sang dukun. Ketika sakit itulah Tamiran sulit tidur.
Suatu saat ketika bisa tidur, justru Tamiran mendapat mimpi. Terjadinya sekitar jam empat pagi. Mimpi tersebut berupa pesan agar belik miliknya tidak dipakai untuk padusan dan wisuh (mandi dan mencuci). Dalam mimpi itu, Tamiran justru dipesan agar membuat belik kecil di bawah belik besar yang sudah ada sebelumnya. Belik kecil itu akan bisa dipakai untuk apa saja. Termasuk untuk menyembuhkan penyakitnya. Tamiran yang amat mengharapkan kesembuhan itu juga dipesan agar kelak jika ia sembuh menanam tiga jenis tanaman, yaitu: andong, puring dan jambe. Pesan mimpi itu ialah: andong mengandung maksud supaya orang diingatkan untuk selalu ndedonga (berdoa), puring dimaksudkan supaya orang nyuwun pangapura kaliyan Gusti (memohon ampun dari Tuhan), dan jambe maksudnya agar manusia mengalami bejo ing tembe (keberuntungan di kemudian hari).
Peristiwa yang terjadi tahun 1950 –an itu membuat Tamiran sungguh mengharapkan kesembuhan sambil berdoa memohon pertolongan Yang Mahakuasa. Dan ketika sembuh, Tamiran pun melaksanakan amanat yang didengarnya dari mimpi jam empat pagi itu.

Peristiwa ‘ 65
Waktu terus bergerak. Tahun 1963 kelompok reog yang diikuti Tamiran muda dan Selan muda berpentas di Madiun. Saat itu yang mengajak adalah seorang koster Gereja Cornelius, Madiun, asal Klepu bernama Sugiyoto. Ketika terjadi peristiwa berdarah tahun 1965, warga lingkungan tempat tinggal Tamiran dan Selan merasa tidak nyaman dengan banyaknya pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa. Karena itu, mereka bersama dua teman lainnya berbicara dengan Lurah Sumakun (almarhum, kakek Lurah Klepu sekarang) dan Sugiyoto. Mereka bertanya, apakah bisa menganut agama Katolik ? Tanpa “babibu”, Sugiyoto menjawab bisa. Permintaan warga ditanggapi Sugiyoto dengan menghadap ke Pastor Paroki Madiun saat itu, Fornasari Sebastiano, CM (almarhum). Pastor Fornasari menanggapinya dengan positif asalkan paling tidak ada 25 orang yang akan dibimbing. Sugiyoto meminta agar kelima warga Klepu yang berminat menjadi Katolik mengajak teman sedikitnya 25 orang. Warga Klepu tadi tidak kurang akal, mereka mengajak anak, istri, dan kerabatnya sampai terkumpul sebanyak 25 orang sebagaimana permintaan Pastor Fornasari.
Sampai suatu saat, pastor paroki mengirimkan seorang Katekis dari Madiun bernama Sukardi, membimbing mereka menjadi katekumen. Semakin lama, peminat pelajaran agama Katolik bertambah banyak. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, Sukardi merasa tak mampu lagi. Akhirnya Paroki Madiun mendatangkan seorang katekis tambahan, Mario Alimin. Bersamaan dengan itu dibentuklah 12 lingkungan untuk memudahkan pelayanan bagi para katekumen, yaitu satu lingkungan di wilayah desa Jurug dan 11 lingkungan lainnya di wilayah desa Klepu. Mbah Selan mencatat semangat para katekumen serta kesederhanaan para katekis, yaitu Sukardi dan Mario Alimin yang selalu menerima apa adanya yang diberikan umat. Para katekis pun selalu memilih giliran istirahat justru di tempat umat yang menurut mereka sederhana sekali. Sampai akhirnya, sebanyak 853 katekumen mancapai garis tujuannya dengan menerima baptisan dari Pastor Fornasari tahun 1968. Itulah baptisan pertama dan terbanyak di Klepu. Jumlah umat Katolik yang semakin banyak membuat aktivitas umat meningkat pula. Ketika itu mulai diadakan doa lingkungan secara bergiliran dua kali seminggu. Umat lingkungan Pondok yang mendatangi rumah Tamiran untuk doa selalu melewati belik tadi. Tiap kali sampai di belik mereka selalu berhenti sejenak. Mereka merasa tempat itu angker. Karena itu, kemudian Mbah Selan selaku sesepuh di lingkungan itu mengajak beberapa sesepuh mengadakan doa tiap malam Jumat di tempat tersebut. Di antaranya, Mbah Warijan (alm) dan Pak Pathil (alm).
Lama kelamaan, doa jam 12 malam itu diikuti banyak orang. Karena tidak hanya para sepuh tetapi juga ibu-ibu bersama anak-anaknya, maka doa jam 12 malam itu diubah menjadi jam tujuh malam. Saat itu katekis baru, Sugiyanto juga ikut berdoa di dekat belik tadi. Kabar tentang doa di belik tiap malam Jumat itu akhirnya sampai ke telingga Pastor Paroki Ponorogo Albertus Haryopranoto, Pr dan Pastor John Pareira, Pr. Keduanya melihat lokasi dan menyaksikan kegiatan doa umat Pondok. Saat itu memang Keuskupan Surabaya sedang mencari lokasi untuk tempat ziarah.
Muncullah ide mengembangkan kegiatan itu dan kehendak untuk membeli lokasi belik sebagai tempat ziarah. Maka, pastor paroki mengutus Sugiyanto mengkomunikasikannya dengan isteri Tamiran. Istri Tamiran tidak berkeberatan dengan kehendak Gereja, tetapi ia hendak mengumpulkan sanak saudara dan ahli waris Tamiran. Dalam rapat keluarga besar Tamiran dicapailah kata sepakat bila tanah di mana terdapat belik tempat berdoa tadi dibeli Gereja untuk dikembangkan menjadi lokasi ziarah milik Keuskupan Surabaya. Akhirnya mulai dibangunlah Kompleks Ziarah Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih lengkap dengan jalan salib yang mengitari bukit sekitar belik. Tahun 1988, kompleks ziarah tersebut diresmikan Mgr. Aloysius Joseph Dibyokaryono, Pr.


Banyak mukjijat
Sejak diresmikannya kompleks ziarah itu, dibentuklah panitia kecil untuk mengelolanya. Mereka merawat dan memelihara dengan sukarela tanpa mendapat imbalan. Jumlahnya tiga orang, Selan sebagai penerima tamu, Warni mengurus keuangan dan Jemani, anak Tamiran sebagai sekertaris. Dari tahun ke tahun peziarah mulai berdatangan ke lokasi ziarah tersebut untuk berdoa dan memohonkan pertolongan. Bahkan beberapa di antara para peziarah tidak beragama Katolik.
Mbah Selan mencatat beberapa di antara para peziarah terkabul permohonannya. Mereka adalah Kasiran dari desa Tempuran (bukan Katolik) menyuruh keponakannya meminum air Sendang hingga sembuh dari sakit gatal; Mbok Sibro yang datang ke tempat itu untuk bersyukur atas kesembuhannya; seorang sopir dari Ponorogo yang tidak memiliki anak datang berdoa ke tempat itu dan mendapatkan keturunan; seorang dukun dari Banjar Rejo Pudak yang selalu mengambil air Sendang untuk menyembuhkan orang gila; cucu Tamiran yang masih kecil tercebur ke belik, cucu Mbah Selan sendiri bernama Hananto yang sakit amandel; menurut dokter harus dioperasi, karena tak punya uang ia dimandikan dengan air Sendang oleh Sugiyanto dan akhirnya sembuh.
Tamiran yang sakit mengalami waluyo (kesehatan dan kesembuhan) sedang cucunya yang tercebur mengalami sih (belas kasihan) karena selamat dari tenggelam. Itulah mengapa sampai kini dipakai nama Waluya Jatiningsih untuk Sendang. Belik besar yang tidak boleh dipakai untuk mandi dan mencuci kini telah ditutup, tetapi ada belik kecil buatan Tamiran selalu terbuka untuk diambil dan dipakai untuk berbagai keperluan bagi mereka yang percaya serta mengharapkan pertolongan Allah.
Kini, Mbah Selan sendiri tidak bisa memberi perhatian penuh pada Kompleks Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih. Ia tidak bisa menyapu lokasi jalan salib dan kompleks ziarah, membersihkan Sendang, merawat tanaman atau menemani peziarah. Itu semua karena istrinya sakit mata, bahkan tidak bisa melihat. Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk berobat ke dokter hingga ke Surabaya. Tetapi penyakit istrinya tak kunjung sembuh. Karena itu hari-harinya kini disibukkan dengan merawat istrinya. Mereka kini tinggal berdua, karena anak perempuan satu-satunya telah menjadi guru SD dan bersama suaminya tinggal di lingkungan Ngapak.
Meskipun demikian, Mbah Selan masih mengemban amanat mimpi yang pernah dialami Tamiran yaitu untuk menanam kembali Andong, Puring dan Jambe yang mati karena pembangunan Kompleks Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih tahun 2000-2001. Baginya, penanaman kembali tanaman itu akan mengingatkan para peziarah untuk selalu ndedonga, nyuwun pangapura dan bejo ing tembe.